Tak Sabar GTA 6, Developer Ini Bikin Versi Sendiri Pakai AI
Menjelang perilisan Grand Theft Auto VI yang dijadwalkan hadir pada November 2026, antusiasme gamer semakin tinggi. Namun, tidak semua orang memilih menunggu. Seorang pendiri startup justru mengambil langkah ekstrem dengan menciptakan versi tiruan game tersebut menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Ziwen Xu, pendiri Hyperecho, memulai proyek ini dengan pendekatan eksperimental yang ia sebut sebagai “vibe coding”. Ia memanfaatkan model AI canggih dari Anthropic, yakni Claude 20x, untuk membantu membangun game secara bertahap. Proyek tersebut resmi dimulai pada 11 Juni dan langsung menarik perhatian komunitas teknologi.
Xu tidak hanya bekerja sendiri. Ia juga membagikan perkembangan proyeknya secara terbuka melalui platform seperti GitHub, sehingga siapa pun dapat melihat bahkan ikut berkontribusi dalam pengembangannya.
Pada tahap awal, hasil yang ditampilkan masih sangat sederhana. Walau terlihat jauh dari kata realistis, perkembangan proyek ini berlangsung cepat.
Memasuki hari kedua, perubahan mulai terlihat. Karakter dalam game sudah memiliki bentuk menyerupai manusia dan dapat bergerak di area perkotaan. Meski demikian, Xu mengakui bahwa sistem yang dibangun AI masih sering menghasilkan kesalahan.
Salah satu kendala yang ia temui cukup unik. AI justru membangun latar kota dengan gedung pencakar langit yang menyerupai Los Angeles, padahal konsep game seharusnya mengambil lokasi di Florida. Hal ini menunjukkan bahwa AI masih membutuhkan pengarahan yang tepat agar sesuai dengan visi pengembang.
Dalam waktu kurang dari seminggu, proyek ini berkembang cukup signifikan. Lingkungan game mulai terlihat lebih hidup dengan kehadiran NPC, kendaraan, dan elemen interaktif lainnya. Bahkan, beberapa fitur seperti penggunaan senjata mulai muncul dalam gameplay.
Namun, Xu menghadapi keterbatasan teknis yang cukup menantang. Penggunaan model AI memiliki batasan kuota, dan ia mengaku telah menghabiskan sebagian besar kapasitas hanya dalam waktu singkat. Hal ini membuatnya harus mengatur strategi agar proyek tetap berjalan.
Di sisi lain, ambisi Xu juga terbilang berani. Ia secara terbuka menyatakan ingin menyelesaikan proyeknya sebelum perilisan resmi dari Rockstar Games. Target tersebut terdengar ekstrem, mengingat game asli dikembangkan selama bertahun-tahun oleh tim besar.
Proyek ini bukan sekadar upaya meniru game populer, tetapi juga menjadi bukti bagaimana AI mulai mengubah proses pengembangan game. Berkat kemajuan teknologi, satu orang kini dapat membangun prototipe yang sebelumnya membutuhkan kerja sama tim besar.
Meski hasil akhirnya belum tentu menyaingi kualitas game asli, eksperimen ini membuka peluang baru di industri kreatif. AI mempercepat realisasi berbagai ide, meski kualitas akhirnya tetap bergantung pada kreativitas dan penilaian manusia.
Kisah ini menunjukkan bahwa di era digital, batas antara imajinasi dan realisasi semakin tipis. Bagi sebagian orang, menunggu bukan lagi pilihan—menciptakan sendiri justru menjadi jalan yang lebih menarik. Baca berita lain di sini.
Dari Game Biasa Jadi Barang Super Mahal Siapa sangka sebuah kaset game jadul bisa bernilai…
Ajang Xbox Game Showcase Juni 2026 kembali menghadirkan banyak kejutan bagi para gamer. Dalam acara…
Ajang Summer Game Fest 2026 kembali menjadi panggung besar bagi berbagai pengumuman game menarik. Salah…
Industri game kembali diramaikan oleh proyek ambisius dari SEGA bersama RGG Studio. Game terbaru mereka…
Seri Kingdom Come: Deliverance kembali menjadi sorotan setelah kabar terbaru dari Warhorse Studios mencuat ke…
Keputusan mengejutkan datang dari kubu Xbox. Game Fable yang dikembangkan oleh Playground Games dipastikan tidak…