Peluncuran Call of Duty Black Ops 7 pada 13 November di PS4, PS5, Xbox One, Xbox Series X/S, dan PC via Steam menjadi salah satu rilis terbesar tahun ini. Namun, antusiasme yang biasanya mengiringi seri Black Ops berubah menjadi gelombang kekecewaan. Game terbaru racikan Treyarch itu justru mendapat skor penggemar terendah dalam sejarah waralaba Call of Duty di Metacritic, memunculkan diskusi luas tentang kualitas rilis AAA dan ekspektasi komunitas gaming.
Skor Kritikus Tinggi, Penilaian Pemain Justru Menukik Tajam
Data per Senin (17/10) menunjukkan bahwa Call of Duty Black Ops 7 memperoleh skor 84 berdasarkan 16 ulasan kritikus. Angka tersebut sebenarnya menandakan reception positif dari reviewer profesional. Namun situasinya berbanding terbalik ketika melihat ulasan penggemar. Dari lebih dari 540 review pemain, game ini hanya meraih skor 1,6 dari 10, menjadikannya salah satu seri terburuk dalam sejarah Call of Duty berdasarkan penilaian komunitas.
Sebagai perbandingan, Modern Warfare 3 (2023) yang sempat dikecam komunitas masih memperoleh skor 2,3 dari ulasan penggemar. Fakta bahwa Black Ops 7 menempati posisi lebih rendah menunjukkan ketidakpuasan yang jauh lebih besar. Kondisi ini menegaskan adanya jurang antara penilaian kritikus dan ekspektasi pemain terhadap kualitas keseluruhan game.
Tuduhan Penggunaan AI dan Fitur Co-op yang Dianggap Menurun
Salah satu pemicu utama maraknya skor negatif adalah dugaan penggunaan AI dalam proses pembuatan campaign. Sejumlah pemain menilai narasi dan dialog campaign terasa janggal, membuat mereka yakin bahwa sebagian kontennya berasal dari teknologi generatif. Activision sudah menanggapi isu ini, tetapi sebagian komunitas tetap kecewa karena mereka menilai nuansa campaign tersebut tidak memenuhi standar tinggi seri Black Ops.
Fitur Co-op juga menjadi sorotan. Banyak pemain menyebut mode tersebut terasa aneh, kurang matang, dan tidak memiliki kekompakan desain seperti seri-seri sebelumnya. Kekecewaan ini kian memuncak karena mikrotransaksi yang menurut banyak penggemar telah mengikis esensi shooter klasik yang menjadi daya tarik utama Call of Duty.
Mikrotransaksi yang semakin mendekati batas pay-to-win mulai menurunkan pengalaman bermain. Keluhan ini sebenarnya sudah muncul selama beberapa tahun terakhir, tetapi pada rilis kali ini kekecewaan pemain justru mencapai puncaknya.
Jumlah Pemain di Steam Tidak Capai 100 Ribu, Tertinggal dari Kompetitor
Kritik dari komunitas semakin terlihat melalui jumlah pemain di Steam. Hingga kini, Black Ops 7 masih gagal menembus angka 100 ribu pemain, sebuah capaian yang tergolong rendah untuk game sebesar Call of Duty. Kondisi ini semakin kontras ketika melihat Battlefield 6 dan ARC Raiders, dua kompetitor yang sudah lebih dulu meraih 200 hingga 400 ribu pemain.
Situasi ini mengguncang komunitas dan memaksa mereka memperdebatkan loyalitas pemain, mutu pengalaman bermain, serta kemampuan Call of Duty untuk tetap berada di puncak pasar shooter AAA.
Skor Masih Bisa Berubah, Tapi Reputasi Terlanjur Terdampak
Meski skor saat ini sangat rendah, perlu dicatat bahwa angka tersebut masih bisa berubah karena game baru dirilis beberapa hari lalu. Jumlah pemain aktif juga belum mencapai angka maksimum. Seiring waktu, pembaruan game dan respons pemain baru dapat memengaruhi penilaian keseluruhan. Namun, reputasi awal Black Ops 7 sudah terlanjur tercoreng karena tingginya gelombang review negatif sejak hari pertama.
Komunitas berharap Treyarch dan Activision bergerak cepat memperbaiki isu yang dianggap paling merusak pengalaman. Tanpa langkah signifikan, Black Ops 7 berpotensi tercatat sebagai salah satu rilis paling kontroversial dalam sejarah franchise Call of Duty. Baca berita lain disini.


